Kloningan

Saturday, March 12, 2016

Jaman Pembantu Rumah Tangga Milyuner Dan Trilliuner

6 comments
Judul di atas kedengarannya sangat sinis dan provokatif. Apakah bisa, seorang pembantu menjadi milyuner, tak perlulah menjadi trilliuner? Dan kalau seorang pembantu adalah trilliuner maka majikannya harus seorang zillioner agar supaya bisa membayar gaji pembantu rumah tangganya itu. Apakah bisa terjadi? Kalau sudah menjadi trilliuner, kenapa masih menjadi pembantu. Bukankah seharusnya dia bisa punya banyak pembantu rumah tangga?

Tentu saja pembantu rumah tangga bisa saja seorang trilliuner. Kata milyuner atau triluner rupiah tidak ada kaitannya sama sekali dengan tingkat kemakmuran atau status ekonomi seseorang. Seorang pembantu rumah tangga di Jakarta tahun 2009, bergaji rata-rata Rp 600.000 per bulan. Ini kalau dikurskan ke rupiah ORI (oeang Repoeblik Indonesia, tahun 1946) maka sama dengan RP 6 milyar ORI. Kalau uang republik tidak pernah mengalami penyunatan angka nol, maka di republik ini para pembantu rumah tangga sudah menjadi milyuner. Ini terjadi dalam kurun waktu 64 tahun. Jadi bukan tidak mungkin dalam kurun waktu 4 dekade lagi, target pembantu bergaji Rp 1 milyar (uang Orba – yang berlaku dari 1965 sampai sekarang).

Kita tidak perlu kecewa karena republik ini hanya menunda pencetakan milyuner-milyuner baru yang terlalu cepat. Kita harus sabar sedikit. Pada saatnya nanti status milyuner akan dimiliki pembantu rumah tangga. Jika kecepatan pertumbuhan uang masih seperti sekarang, maka cita-cita itu akan tercapai pada dekade 2060an. Akan tetapi sebelum status milyuner, para pembantu rumah tangga ini harus melewati tahap jutawan dulu. Dan ini akan dilampauinya setelah tahun 2015 - 2020. Dan status trilliuner bisa dicapai para pembantu rumah tangga pada tahun sekitar 2110. Itu kalau republik ini masih berdiri.

Mungkin pembaca sekalian sulit untuk mempercayai ramalan pembantu milyuner atau trilliuner. Ketidak percayaan ini sama saja kalau nenek saya bangun dari kubur dan melihat pembantu-pembantu sekarang ini, tahun 2010, punya gaji Rp 600.000 per bulan. Dia akan terkaget-kaget melihat gaji setinggi itu. Ketika mereka masih hidup, hanya dalam bilangan ribu rupiah.

Ketika De Javasche Bank didirikan tahun 1828, uang yang diedarkannya hanya 1,12 juta gulden. Kalau anda jutawan waktu itu, maka anda punya De Javasche Bank. Dengan pernyataan ini anda mungkin sudah bisa mengerti bahwa adanya pembantu milyuner itu bisa menjadi kenyataan di masa datang. Uang yang diedarkan De Javasche Bank waktu itu adalah uang kertas dengan garansi perak. Pada waktu itu sudah ada bermacam-macam koin perak dan emas lain yang beredar. Selanjutnya sampai tahun 1922, De Javasche Bank mengedarkan 9 juta gulden. Tentunya dengan tambahan garansi perak atau kolateral. Pertumbuhan uang selama hampir seabad, antara tahun 1828 sampai 1922 kalau dihitung hanyalah 2,2% “saja” per tahun. Adanya kata “saja” adalah untuk memberikan penekanan, karena adanya perbedaan prilaku antara penjajah Belanda dan pemerintah Republik Indonesia merdeka.

Kita lupakan periode jaman penjajahan Jepang yang kacau itu dan datanya pun kacau. Kita maju ke periode berikutnya yaitu periode kemerdekaan. Antara jaman Kemerdekaan, jaman Gunting Sjafruddin sampai jaman Orde Lama, inflasi uang giral dan kartal (M1) rata-rata adalah 62,2%. Pada tahun 1950, uang kartal dan giral yang tersisa dari keputusan Gunting Sjafruddin adalah Rp 4,5 milyar. Dan 9 tahun kemudian menjadi Rp 5.2 milyar (lihat Grafik VII - 3). Jaman ini diakhiri dengan penyunatan satu angka nol yang dimiliki rupiah. Rp 1000 menjadi Rp 100.

Kemudian jaman Orde Lama Sukarno dari tahun 1959 - 1966. Dibandingkan dengan penjajah Belanda, ternyata bapak pendiri negara republik ini sangat suka mencetak uang. Belanda hanya 2,2% pertahun dan bapak pendiri negara republik ini 104,2%. Inflasi rata-rata selama periode ini adalah 104.2%. Inilah jaman Sosialisme Pancasila, Marhaenisme. Uang dicetak untuk disosialkan (apapun arti disosialkan). Sampai akhirnya terlalu banyak jutawan. Rupanya penerus Sukarno, yaitu Suharto merasa bahwa di Indonesia terlalu banyak jutawan kere, kemudian menyunat 3 nol dari rupiah diakhir tahun 1965. Dan uang Rp 1000 menjadi Rp 1.
Grafik VII - 3    Jumlah uang rupiah kartal dan giral (M1) yang beredar

Bapak pembangunan Indonesia, Suharto, yang agak kapitalis. Tepatnya menerapkan kroni-kapitalisme dan sosialisme-hutang yang tidak seganas pendahulunya yang sosialis Pancasila dalam mencetak uang.  Inflasi M1 rata-rata jaman Orde Baru, dari Repelita I (Rencana Pembangunan Lima Tahun I - nama program pembangunan di jaman Suharto) sampai era lepas landas (istilah Suharto untuk program pembangunan 5 tahunannya yang terakhir) dan nyungsep (1966 – 1998), hanyalah 36.2%. Dihampir masa pemerintahan Orde Baru, kroni kapitalisme diterapkan. Hanya dibagian akhir era Suharto, sosialisme hutang diterapkan, dimana hutang-hutang para kroni kapitalis dijadikan beban sosial dengan menstimulasi hiper-inflasi. Pada krisis moneter 1998, inflasi ditinggikan supaya nilai riil hutang yang dimiliki para konglomerat kroni kapitalis menjadi turun. Mekanisme sosialisme hutang otomatis berjalan. Nilai riil tabungan masyarakat (sosial) tergerus. Karena pada dasarnya inflasi adalah memindahkan kekayaan riil penabung ke debitur (penghutang).

Jaman Reformasi agressifitas politikus dalam hal mencetak uang untuk sementara mereda. Inflasi M1 hanya sekitar 16% saja. Ini berarti setiap 4-5 tahun harga-harga akan naik 2 kali lipat. Sekarang bayangkan, bahwa setiap 4-5 tahun gaji pembantu naik menjadi 2 kali lipat. Bisakan tingkat milyuner dicapai ditahun 2065 dan tingkat trilliuner dicapai di tahun 2100an?

Untuk menghitungnya mudah saja. Setiap 5 tahun gaji dikalikan 2 saja. Sehingga kalau tahun 2010 gaji pembantu rumah tangga adalah Rp 600.000, maka tahun 2015 akan menjadi Rp 1.200.00. Dan tahun 2020 menjadi Rp 2.400.000. Kemudian tahun 2025 Rp 4.800.000. Dan seterusnya sehingga menjadi Rp 614 juta di tahun 2060; Rp 1,23 milyar di tahun 2065 dan Rp 1.2 trilliun di tahun 2115.

Ini tidak berarti pembantu menjadi makmur semua. Karena harga-harga juga naik. Buktinya, harga emas (uang sejati) bergerak secara tandem dengan jumlah uang rupiah yang beredar (lihat Grafik VII - 4) Padahal harga emas selalu seiring dengan harga kambing sejak jaman Romawi, jaman nabi Muhammad dulu. Artinya nilai rupiah terus turun sejalan dengan bertambahnya pasokan uang rupiah.

Grafik VII - 4    Supply uang kartal dan giral (M1) sejalan dengan harga emas
Hanya dalam waktu 6,5 dekade semenjak kelahirannya, nilai riil rupiah hanya tersisa 0,0000018% saja.  Perhatikan ada 5 angka nol di belakang desimal. Dibandingkan dengan rupiah tahun 1946, nilai rupiah sudah tergerus hampir semuanya, tepatnya 99,9999982%. Demikian parahnya, untuk mengikuti kemerosotan nilai rupiah harus digunakan grafik semilogaritmik (Grafik VII - 5). Ini adalah cara untuk memperlihatkan penurunan sampai beberapa desimal.
Grafik VII - 5    Penurunan nilai riil rupiah

Sejalan dengan menurunya nilai rupiah dan dollar Amerika Serikat maka angka-angka kemakmuran nominal yang disajikan oleh badan-badan resmi menjadi tidak relevan. Contohnya saja GDP, apakah itu dalam bentuk GDP nominal (dalam US$) atau Purchasing Power Parity (dalam 1990US$), nampak sangat aggressif dibandingkan dengan GDP per kapita Indonesia dalam emas (Grafik VII - 6). GDP nominal dan PPP nampak mengarah untuk naik terus. Tetapi GDP per kapita Indonesia dengan patokan emas dari awal jaman Orde Baru sampai tahun 2010, tidak logaritmik kenaikannya.
Grafik VII - 6    GDP per kapita Indonesia dalam berbagai tolok ukur

Grafik VII - 7 adalah untuk memperjelas Grafik VII - 6, dimana GDP\PPP ditiadakan. GDP dalam US dollar dan dalam gram emas, dimulai pada level yang sama pada tahun 1967, tahun di awal Orde Baru. Nilainya di sekitar 50-60. Empat dekade kemudian, GDP Indonesia per kapita dalam US dollar naik di atas $ 2000 atau naik 400 kali. Sedang dalam gram emas masih bertengger tidak lebih dari 70 gram (Grafik VII - 8). GDP nominal ini dalam dollar Amerika Serikat. Kalau dalam rupiah, kenaikkannya ratusan kali lebih dahsyat lagi. Kalau dilihat kenyataan, GDP dengan tolok ukur emas lebih mencerminkan kenyataan. Misalnya, ayah saya dulu punya rumah dengan luas tanah/bangunan 300m/150m. Yang saya milikipun kurang lebih demikian. Apa yang dulu rata-rata orang punyai, sekarangpun demikian. Tentu saja antara jaman dulu dan sekarang tidak selalu sama, tetapi selalu ada padanannya. Misalnya radio, tv hitam-putih padanannya tv plasma, atau komputer; gramaphone dengan entertainment center; video dengan DVD. Teknologi memungkinkan manusia memperoleh barang-barang dan lebih baik dengan harga yang semakin murah seiring dengan waktu. Tetapi barang-barang yang sudah tidak bisa diup-grade lagi, seperti ayam, telur, kambing, hewan ternak, hasil pertanian, harganya naik seiring dengan inflasi uang yang diedarkan.

Kenaikan GDP/PPP dari $1.000 tahun 1967 ke $4.000 tahun 2009 tidak berarti rumah orang sekarang berukuran 4 kali lebih besar dari pada rumah-rumah orang tahun 1967. Kalau anda bertanya, mewakili apakah GDP/PPP itu? Entah lah. Tanyakan kepada ahli statistik. Kalau anda bertanya seperti itu, kemungkian tanggapannya adalah sangat membingungkan sampai akhirnya anda menyerah. Demikian juga makna jutawan, milyuner, trilliyuner atau zillioner,........tidak ada maknanya selama uang masih bisa dicetak. Untuk memahami hal ini, anda harus membaca lagi bab Pajak, Pungutan, Pemerasan Dan Inflasi.

Mungkin mengatakan bahwa milyuner, trilliyuner atau zillioner, tidak ada maknanya selama uang masih bisa dicetak, tidak sepenuhnya benar. Secara riil bisa saja mereka ini kere, tetapi dari namanya, milyuner, trilliuner atau zillioner kere ini akan layak dipajaki.
Grafik VII - 7    GDP per kapita Indonesia dengan tolok ukur US dollar dan emas
Grafik VII - 8    GDP per kapita Indonesia dengan uang sejati/emas sebagai tolok ukur
Sumber : http://ekonomiorangwarasdaninvestasi.blogspot.co.id/2014/10/no53-penipu-penipu-ulung-politikus-dan.html


6 comments:

Post a Comment