Kloningan

Thursday, May 7, 2015

Pater Beek, Kasbul dan Jokowi

Leave a Comment
M. Sembodo penulis buku ‘Pater Beek, Freemason dan CIA’ menulis tentang gerakan apa yang disebut Kasbul (Katholik Sebulan). Dalam sebuah situs ‘tikus merah’ Sembodo mengulas skenario gerakan Kasbul, termasuk pengkaitan gerakan rahasia ini dengan pencapresan Joko Widodo (Jokowi). Berikut tukilannya:
Kasbul merupakan ajang bagi Pater Beek untuk mendidik kader-kader Katolik yang militan. Awalnya, tempat kaderisasi terletak di Asrama Realiono, Yogyakarta. Letak asrama ini tak jauh dari kampus Universitas Sanata Dharma di Jalan Gejayan (sekarang bernama Jalan Afandi) Yogyakarta. Di tempat inilah para kader Katolik muda dididik untuk menghadapi kaum Komunis dan Islam.
Pater Beek memang dikenal sebagai rohoniawan yang anti Komunis. Sebelum peristiwa 1965 pecah, Pater Beek mendidik mahasiswa-mahasiswa Katolik dalam Kasbul untuk melawan kekuatan Komunis.
Richard Tanter (1991) menyatakan:

Bagi (Pater) Beek, ada dua musuh besar bagi Indonesia maupun bagi Gereja, yaitu Komunisme dan Islam, di mana ia melihat keduanya memiliki banyak keserupaan: sama-sama memiliki kualitas ancaman.”
Oleh sebab itu, Pater Beek mengkonsolidasi kekuatan untuk melawan Komunisme yang saat itu kuat di Indonesia. Ia kumpulkan mereka untuk diberi pendidikan. Terutama yang dihimpun adalah mahasiswa-mahasiswa Katolik dari berbagai daerah. Dalam buku berjudul “Bayang-bayang PKI” (1986) dijelaskan:
“Selama bertahun-tahun Pater Beek memang telah menghimpun dan membina anak-anak muda, terutama mahasiswa, untuk ditempa sebagi kekuatan anti-komunis. Basis utamanya adalah PMKRI (Pergerakan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), yang saat itu merupakan organisasi underbouw Partai Katolik.
Tokoh-tokoh PMKRI pula yang kemudian banyak terlibat dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Dengan pengaruh dan jaringan anti-komunis yang kuat itu, tak heran banyak dugaan bahwa Pater Beek memainkan peranan penting dalam gerakan anti-komunis. Antara lain, ia sering disebut-sebut sebagai penghubung antara AD dan CIA.”
image
Keterlibatan Pater Beek adalam gerakan anti Komunis juga ditulis oleh Oei Tjoe Tat (1995) dalam memoarnya. Ia memberikan kesaksian sebagai berikut:
“Pater Beek itu, saya lihat pertama kali setelah saya dibebaskan. Saya di dalam tahanan mendengar dari orang-orang PNI, BAPERKI, PKI, dan sebagainya bahwa Pater Beek ini adalah agen CIA. Dia membina pemuda-pemuda keturunan Katolik, terutama pemuda-pemuda keturunan Tionghoa-Katolik, untuk antara lain membakar gedung Kedubesan RRT, membakar gedung Universitas Res Publika dan menghancurkan semua gedung-gedung PKI atau rumah-rumah orang PKI. Ini dianggap ultra-kanan. Selama saya mendengarkan itu, saya di RTM. Bagaimanapun saya Katolik. Jadi, ada seorang pastur Katolik begitu, saya diam. Tapi pada waktu saya diperkenalkan dengan Pater Beek dan datang ke sini [RTM-red] kemudian, dia mengaku. Dia bilang begini pada saya, “Kalau pak Oei perlu sesuatu dari…, saya bisa. Ali Moertopo, semua jenderal.” Saya dengar dia ini membantu Liem Bian Koen dan Liem Bian Khie, Sumarlin. Semua ini di bawah dia. Dia juga kuat di PMKRI.”
Ketika PKI ditumpas pasca Peristiwa 1965, Pater Beek, lewat Ali Moertopo, menyerahkan 5.000 nama orang-orang PKI pada CIA. Hal ini terungkap ketika wartawati Amerika Serikat, Kathy Kadane yang mewawancarai mantan pejabat Kedubes Amerika Serikat di Jakarta, pejabat CIA dan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.
Ia mendapatkan pengakuan dari nara sumbernya itu. Salah satu yang diwawancarai adalah Lydman—mantan wakil kepala misi Kedubes Amerika Serikat di Jakarta. Dalam wawancara tersebut Lydman mengatakan pengumpulan nama-nama orang PKI selain dilakukan oleh stafnya juga dibantu oleh Ali Moertopo.
Lantas bagaimana nasib 5.000 nama orang-orang komunis tersebut? Robert J Martens yang saat Peristiwa 1965 pecah menjabat sebagai Sekretaris I Kedubes Amerika Serikat melakukan pengecekan terhadap 5.000 orang dalam daftar itu.
Dari hasil pengecekannya didapatkan semua orang yang terdapat dalam daftar itu ditangkap dan kemudian dibunuh. Menanggapi pembunuhan tersebut, Pater Beek dalam wawancaranya dengan Aaad van Heuvel (1993) dengan ringan mengatakan: “Masalahnya mereka atau kita (yang dibunuh).”
Setelah orang-orang Komunis ditumpas, entah apa alasannya, pada tahun 1967 tempat pendidikan Kasbul di pindahkan ke Klender, Jakarta Timur. Menurut Mujiburrahman (2006) tempat di Klender dikelola oleh seorang suster bernama Mathilda Maria Van Thienen. Dari wawancara dengan sang suster, Mujiburrahman mendapatkan keterangan bahwa asrama di Klender terdiri dari tiga blok dengan 72 ruangan dan 114 tempat tidur. Biasanya Pater Beek akan datang empat kali dalam setahun memimpin acara Kasbul.
Sistem Kaderisasi dalam Kasbul
Dalam setiap pelatihan Kasbul, biasanya diikuti oleh 100 orang, 10 di antaranya adalah perempuan. Mereka merupakan kader-kader Katolik terpilih dari berbagai daerah dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Supaya bisa mengikuti kaderisasi yang sifatnya rahasia ini, seseorang harus mendapatkan rekomendasi dari romo di tempatnya berasal. Pendanaan dari acara ini sebagian besar didapatkan dari luar negeri, terutama Belanda dan Jerman.
Aturan Kasbul memang cukup berat. Seseorang yang telah mengikuti Kasbul dilarang keras menceritakan keikutsertaannya pada orang lain, baik pada keluarga maupun teman. Sebelum pelatihan, mereka akan menjalani serangkaian test psikologi.
Test ini digunakan untuk mengatahui sifat dan keahlian seseorang yang kelak diperlukan sewaktu melakukan penugasan. Sedangkan untuk menyembunyikan identitas seseorang, maka selama pelatihan nama diubah sehingga antara satu peserta dengan peserta yang lain tidak saling mengenal identitas sebenarnya.
Metode pelatihan yang diterapkan Pater Beek dalam Kasbul merupakan kombinasi antara kaderisasi Katolik ala Jesuit dan Komunis. Oleh karena itu, tak mengherankan kalau selama kaderisasi dididik dengan disiplin yang keras. Menurut Mujiburrahman, selama pelatihan tak jarang mereka harus terlibat dalam adu fisik, direndahkan dan dilecehkan guna menggembleng mental. Apa yang diungkapkan Mujiburrahman juga dibenarkanoleh George J. Aditjondro:
“Dalam kegiatan Kasbul itu bukan cuma indoktrinasi yang dilakukan, bahkan latihan fisik yang mendekati latihan militer juga diberikan. Di sana para kader dilatih menghadapi situasi jika diintrograsi oleh lawan. Bagaimana meloloskan diri dari tahanan, bagaimana survive dan sebagainya.”
Sementara itu, Richard Tanter juga memberikan pendapat yang serupa:
“Dalam pratiknya, kursus-kursus tersebut mengambil metode campuran, perpaduan teknik-teknik pendidikan Jesuit dan Komunis, berbasiskan disiplin diri yang kuat. Kursus atau pelatihan-pelatihan ini diselenggarakan dengan pendekataan yang amat brutal atas para pesertanya: para calon kader bahkan kerap kali diharuskan saling menghajar atau memukul rekan-rekan sepelatihannya sendiri, dihina dengan keharusan merangkak di lantai yang penuh dengan kotoran, sesi-sesi harian yang panjang penuh dengan umpatan mengejutkan di tengah malam buta.”
Selain cara-cara yang telah diuraikan di atas, mereka juga diharuskan puasa sepanjang hari dan berdoa semalam suntuk. Hal seperti itu juga dilakukan oleh Pater Beek. Sementara itu, bagi peserta pelatihan yang melanggar disiplin yang telah ditetapkan akan dihukum, dan apabila sudah berulang-ulang melakukan kesalahan, maka akan dipulangkan.
Dalam Kasbul seseorang juga diuji kejujurannya. Sebagaimana dituturkan Mujiburrahman, cara pengujian ini dilakukan Pater Beek dengan cara meletakkan uang pada sebuah buku yang sering dibaca oleh peserta. Bila uang itu hilang, maka Pater Beek akan melakukan investigasi.
Ia akan mencoba mengidentifikasikan siapa yang mengambil uang tersebut. Pertama-tama ia akan menanyai penjual dikompleks pelatihan itu. Apabila uang tidak ditransaksikan di tempat itu, maka ia menanyai orang-orang yang dicurigai. Dan setelah uang ditemukan, ia akan menghukum orang tersebut.
Setelah Komunis berhasil dihancurkan oleh Orde Baru, sasaran Pater Beek pindah ke Islam. Teori Pater Beek tentang Islam sebagai ancaman dikenal sebagai teori “Lasser Evil Theory (Teori Setan Kecil).” Dalam teori itu dibabarkan bahwa setelah komunis berhasil dihancurkan oleh tentara, maka akan muncul dua ancaman. Tentang dua ancaman ini George J. Aditjondro memberikan uraian sebagai berikut:
“Setelah komunis dihancurkan oleh tentara, (Pater) Beek melihat ada dua ancaman (setan) yang dihadapi kaum Katolik di Indonesia. Kedua ancaman sama-sama berwarna hijau, Islam dan tentara. Tapi Beek yakin, tentara adalah ancaman yang lebih kecil (lasser evil) dibandingkan Islam yang dilihatnya sebagai setan besar. Berdasarkan pikiran itulah maka perintah Beek kepada kader-kadernya adalah rangkul tentara dan gunakan mereka untuk menindas Islam.”
Tentang pilihan Pater Beek memilih Orde Baru dan tentaram ditekankan Ricarad Tanter sebagai berikut:
“Pemilihan semacam ini dibenarkan (Peter) Beek, dengan dalih sungguh pun banyak kesalahan yang dilakukan yang dibuat oleh Soeharto, watak Komunis maupun Islam yang tidak dapat diterimanya, membuatnya tidak bisa memilih lain, selaian memberikan dukungan atas “the lesser evil (tentara).”
B. Suryasmoro Ispandrihari, salah satu narasumber Mujiburrahman dalam desertasinya yang pernah ikut Kasbul pada tahun 1988, mengungkapkan bahwa para peserta diajarkan untuk menjadikan Islam sebagai musuh yang menakutkan.
“Islam adalah musuh Katolik… Dan jika diperlukan lulusan Kasbul harus mengambil senjata untuk berjuang melawan Islam,” begitu penuturan B. Suryasmoro Ispandrihari menirukan ucapan salah seorang pengajarnya di Kasbul.
Pernyataan Suryasmoro Ispandrihari juga dibenarkan oleh Damai Pakpahan seorang peserta Kasbul tahun 1984 dan sekarang menjadi aktivis LSM di Yogyakarta. Karena doktrin dalam Kasbul yang Islamphobia, membuat Damai Pakpahan memilih keluar dari jaringan Kasbul. Apa yang dilakukan oleh Damai Pakpahan juga dilakukan George J. Aditjondro. Ia menuturkan sebagai berikut:
“Saya sendiri juga pernah menjadi kader Pater Beek dan dilatih melawan komunis. Tapi seperti juga Wangge, ketika CSIS sudah menjadikan Islam sasarannya, dan karena CSIS menjadi tanki pemikir rezim Suharto, juga karena ikut berdarahnya tangan CSIS di Timor Timur, saya tidak bisa lagi tetap berada dalam jaringan pengikut Pater Beek.
Epilog: Setelah Katolik Dipinggirkan Soeharto
Setelah selesai kaderisasi para lulusan Kasbul diharuskan setia pada Peter Beek. Bentuk kesetiaan ini selain taat menjalankan perintah juga diharuskan membuat laporan setiap bulan. Tentang hal di diungkapkan oleh Ricard Tanter:
“Setelah hari-hari yang melelahkan, dalam jam tidur yang mat pendek, dan lain sebagainya, hasil akhirnya adalah: menjadi seorang kader yang sepenuhnya setia, patuh kepada Beek secara personal; menjadi orangnya Beek seumur hidup, yang bersedia melakukan apa saja baginya.
Ketika para kader itu dipulangkan ke habitat asalnya, orang-orang muda ini kemudian diminta untuk menghasilkan laporan bulanan atas segala hal yang mereka dengar dan lihat di dalam organisasi masing-masing, yang dilakukan untuk Beek dan demi Beek seorang. Secara bertahap Beek membangun kepentingan dirinya, sebuah jaringan—kerja intelejen personal. Bagi pimpinan-pimpinan Gereja yang mendukung program Beek, maka hasilnya tentu akan memuaskan.”
Apa yang diungkapkan Richard Tanter memang benar. Para lulusan Kasbul kemudian dibuatkan jaringan yang dikembangkan dengan sistem sel. Masing-masing sel dipimpin oleh seorang koordinator yang berhubungan dengan koordinator sel-sel lainnya. Dengan sistem ini, selain organisasinya rapi, juga memungkinkan gerakan yang efektif. Sementara itu, para lulusan terbaik akan dikirim ke luar negeri.
Posisi politik Kasbul memang tidak konsisten. Setelah melawan Komunis, Islam, mereka kemudian bergeser melawan Soeharto. Ini terjadi ketika pada tahun 1990-an Soeharto mulai merangkul Islam dengan merestui berdirinya ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), dan posisi CSIS mulai disingkirkan.
Sejak kejadian itu, bandul politik Kasbul menjadi anti Soeharto. Tidak mengherankan kalau kemudian kader-kader Kasbul disebar masuk ke dalam gerakan prodemokrasi. Tentu saja sebagian dari kader-kader Kasbul masuk dalam PRD (Partai Rakyat Demokratik) yang pada waktu itu paling keras melawan orde baru.
Pencapresan Jokowi
Sekarang, setelah Soeharto jatuh, dalam demokrasi terbuka, kader-kader Kasbul menyebar lagi. Mereka tentu akan terus terlibat dalam politik. Menjelang Pemilu 2014, mereka tentu mempunyai kepentingan untuk mendukung calon presiden tertentu.
image
Ajianto Dwi Nugroho, misalnya, kader Kasbul lulusan Fisipol UGM, belakangan ikut terlibat menggalang kekuatan untuk memajukan Jokowi sebagai presiden. Lewat lembaga yang dimilikinya yang sebagian stafnya alumni Kasbul, dia ikut momoles pencitraan Jokowi dalam berbagai media.
Kerja Ajianto Dwi Nugroho bisa dijadikan contoh bagaimana kader-kader Kasbul bekerja. Sewaktu mahasiswa, ia masuk dalam lingkaran pers mahasiswa UGM, Balairung. Sembari di Balairung ia mendekat pada gerakan mahasiswa semacam SMID (Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi) Yogyakarta dan Dewan Mahasiswa UGM. Walaupun agak terlambat, ia kemudian masuk menjadi anggota PRD pada tahun 1999.
Untuk survive ia sempat berpacaran dengan mahasiswi beragama Islam dan berkerudung, guna membiayai hidupnya. Dengan pelatihan yang diperoleh ketika mengikuti Kasbul, ia bisa mengambil peran dalam setiap perubahan politik yang ada. Itulah salah satu kelebihan kader-kader Kasbul.
Yang terbaru adalah ketika Jacob Soetoyo melalui jasa lobi Paus Fransicus kepada Presiden Obama dalam pertemuan mereka di Vatikan pada 27 Maret 2014 lalu. Paus meminta kesediaan Obama untuk mendesak kelompok kristen Indonesia melonggarkan kendali mereka terhadap Jokowi. Kelompok kristen Indonesia itu selama ini berkuasa atas diri Jokowi melalui peran James Riady yang juga merupakan anggota Arkansas Connection yang memiliki kaitan erat dengan penguasa Gedung Putih.
Atas restu Paus dan izin Obama, Jacob Soetoyo mempertemukan Jokowi dengan sejumlah duta besar di kediamannya, di bilangan Jakarta Selatan. Tidak tanggung-tanggung, Jacob mempertemuan Jokowi beserta Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan dubes-dubes negara “hiu.” Meski demikian, sejatinya, Duta Besar Vatikan untuk Indonesia adalah sebagai tuan rumah pertemuan itu. Kediaman Dubes Vatikan tentu tidak mungkin digunakan menyambut para tamu agung itu karena akan merugikan posisi politik Jokowi di mata umat Islam Indonesia.
Jacob memang lebih dikenal sebagai pengusaha. Tapi, dalam konteks menjadi fasilitator pertemuan Jokowi-Mega dengan para duta besar tersebut, tentu kapasitasnya sebagai bagian dari CSIS (Centre for Strategic and International Studies).
Sudah banyak yang tahu bahwa CSIS merupakan lembaga pemikir orde baru yang memberikan masukan strategi ekonomi dan politik pada Soeharto. Tapi, yang belum banyak diketahui adalah hubungan CSIS dengan organisasi fundamentalis Katolik dengan Kasbul tadi.
Keberhasilan elit Katolik merebut kendali atas diri Jokowi, sayangnya ditumpangi oleh elit dan kader – kader eks partai komunis atau simpatisan PKI yang kebetulan di wilayah Surakarta, Klaten, Sragen, Sukoharjo dan Boyolali, banyak aktifis dan kader PKI yang menjadi penganut Katolik untuk menghindar dari penangkapan oleh aparat saat operasi pembersihan eks PKI dilancarkan di masa – masa awal orde baru. Mereka, para elit dan kader komunis ini kemudian menjadi penumpang gelap dalam tim sukses atau pendukung Jokowi di mana – mana terutama di Jawa Tengah dan Jakarta.
image
Meski kelompok Katolik berhasil mendobrak benteng pertahanan Faksi Kristen PDIP terhadap pengendalian atas diri Jokowi, Faksi Kristen tetap ngotot dan terus berusaha agar tetap mendapat ruang kendali atas diri Jokowi, walaupun tidak sepenuh dan sekuat saat Jokowi belum direbut Faksi Katolik dan Komunis.
Sejarah baru peta kekuatan politik di Indonesia sedang ditorehkan. Faksi Kristen, Katolik dan Komunis yang sebelumnya selalu bermusuhan, kini bersatu (untuk sementara) dalam rangka mendukung kemenangan capres Jokowi dalam pilpres 2014.
Bagaimana posisi umat Islam Indonesia ? Seperti biasa, meski Islam mayoritas di Indonesia (87%), namun tak berdaya dan tak mampu bersatu.
Seperti buih di lautan ….

0 comments:

Post a Comment