Kloningan

Wednesday, June 18, 2014

GTS, Tentang Keluarga Korban Kerusuhan Mei

Leave a Comment
Berric Dondarrion
18 Jun 2014 | 22:29

Saya barusan membaca artikel dari kompasianer Go Teng Shin/GTS berjudul Prabowo, Ungkap Kerusuhan Mei 98!, dan tampaknya GTS juga adalah korban dari Kerusuhan 13-14 Mei 1998, dan sepertinya sama seperti saya, dia juga telah mencari jawaban dari pertanyaan "siapa dalang biadab dari kerusuhan tersebut?"

http://m.kompasiana.com/post/read/661225/2/prabowo-ungkap-kerusuhan-mei-98-.html

Di antara kesaksian GTS dalam tulisan tersebut ada satu yang menghentak saya, yaitu bagian ketika dia bercerita tentang temannya pasangan suami istri berikut dua orang putri yang dikunci di dalam ruko di Kebun Jeruk dan kemudian dibakar. Bagian ini membuat ingatan saya berputar ke masa lalu sebelum kerusuhan jahanam itu.

Saya yakin ruko yang dimaksud oleh GTS adalah komplek ruko di Perumahan Kebun Jeruk Intercon yang dahulu terdapat gedung bioskop 21 dan lantai 2nya terdapat restoran California Fried Chicken/CFC yang sering saya kunjungi karena saya mengumpulkan "egg monster" yang merupakan hadiah "happy meal" versi CFC. Mainan tersebut jauh lebih bagus daripada mainan yang disediakan fast food2 hari ini. Dari CFC kita bisa turun tangga ke lantai 1 yang merupakan mini market dan depannya terdapat kios majalah tempat saya membeli komik terbitan Rajawali Grafiti.

Saya ingat seperti baru terjadi kemarin bahwa bioskop ini selalu mengadakan pertunjukan film "old and new" ketika memasuki tahun baru, yaitu memutar film lama dan film baru sekaligus. Saya juga ingat betapa kami harus mengantri sampai mengular ketika mau menonton film Home Alone dan Home Alone 2. Di sekitar bioskop 21 yang terhitung besar pada masa itu, berdiri cukup banyak ruko yang juga dijadikan tempat usaha, termasuk rumah makan, laundry, dll. Kadang kala sebelum atau sesudah nonton kami suka makan di rumah makan di sekitar ruko atau di food court supermarket Jameson di komplek sebelah. Salah satu langganan kami sekeluarga adalah soto ayam di ruko Kebun Jeruk milik sepasang suami istri ramah dan baik hati, dan dua orang putri remaja yang suka membantu melayani tamu, salah satunya sebaya saya.

Saat Kerusuhan Mei terjadi, komplek ruko ini termasuk yang diserbu dan dibakar oleh massa, termasuk gedung bioskop 21 padahal banyak orang sedang menonton pertunjukan film. Mengerikan! Ruko-ruko sekitar juga habis dijarah dan dibakar, termasuk ruko rumah makan langganan kami dan yang sungguh mati tidak pernah bisa saya bayangkan sebagai anak berumur 12 tahun, mereka sekeluarga mati tragis karena para penjarah tega mengunci mereka di dalam kemudian membakar hidup-hidup!! Pasca kerusuhan saya mendengar desas desus bahwa putri mereka menjadi korban pemerkosaan sebelum mati tragis, saya tidak tahu kebenarannya, tapi saya tidak heran bila hal tersebut benar. Entah apakah keluarga ini yang dimaksud GTS?

Walaupun sudah tidak seramai masa jayanya, tapi sekarang komplek ruko dimaksud sudah dibangun kembali dan nyaris tidak terdapat sisa-sisa kerusuhan, dengan gedung bekas bioskop sudah menjadi gedung gereja. Begitu juga dengan komplek rumah mewah Kebun Jeruk Intercon di belakang komplek tersebut langsung kehilangan pamornya secara drastis dan tidak bisa pulih sampai sekarang. Selain itu komplek yang awalnya terbuka sekarang dipenuhi portal-portal yang menutup banyak akses seperti masa perang.

Walaupun demikian setiap kali saya mampir ke sana baik ada keperluan atau sekedar nostalgia, saya selalu hampir menangis setiap melihat ruko lokasi satu keluarga tidak berdosa dibakar mati oleh penjarah yang lebih jahat daripada setan! Memang sekarang ruko tersebut sudah berdiri sebuah rumah makan juga tapi saya tidak pernah bisa masuk ke dalamnya karena saya pasti menangis! Apa salah keluarga ini coba? Mengapa mereka harus meninggal dengan setragis itu padahal mereka hanya mencoba hidup dengan damai, mencari uang dengan halal dan melihat kedua putri mereka tumbuh berkeluarga atau menggapai cita-cita. Sungguh, mereka adalah orang baik dan mereka tidak pantas dibunuh seperti itu!

Terus terang, kematian tragis keluarga yang malah tersebut adalah motivasi utama saya untuk menemukan pejahat jahanam yang merekayasa kerusuhan ini, dan saya bersyukur karena pencarian saya tidak sia-sia dan saya sudah berhasil menemukan para pelaku dan dalangnya.

Mengingat kejadian ini maka saya bersyukur tidak menyaksikan siaran di TV One yang dimaksud GTS bahwa Effendi Simbolon berani dan lantang mengatakan bahwa "penculikan teroris" adalah pelanggaran HAM berat sedangkan pembantaian rakyat tidak berdosa pada Kerusuhan 13-14 Mei 1998 adalah bukan pelanggaran HAM. Bila saya menyaksikan acara itu mungkin amarah saya akan meledak dan segera mencari tahu cara menghubungi Effendi Simbolon untuk memakinya atas kekurang ajaran dari pernyataan dia itu.

Selain itu saya memahami kekecewaan GTS karena telah 15 tahun memilih PDIP karena menganggap mereka sebagai partai pelindung minoritas tapi ternyata mereka adalah partai pembantai minoritas. Jangan bersedih Pak GTS, bukan hanya anda saja yang tertipu, tapi banyak "kalangan kiri", "kalangan suporter Soekarno" dan "kalangan minoritas yang tertipu PDIP. Apalagi yang anda harapkan dari partai yang didirikan boneka Benny Moerdani seperti Megawati Soekarnoputri?

0 comments:

Post a Comment