Kloningan

Wednesday, April 23, 2014

PDIP Pro Jokowi vs. Geng Tancho Puan Maharani

Leave a Comment
Berric Dondarrion

Orang-orang yang menyatakan secara terbuka bahwa The Jakarta Post telah memuat berita bohong dan tanpa dasar mengenai pengusiran Jokowi oleh Puan dan kemudian mengkambinghitamkan beberapa pihak karena menyebar informasi bahwa PDIP pecah menjadi kubu Megawati dan kubu Jokowi tampaknya harus meminta maaf kepada pihak-pihak yang terlanjur mereka bully dan hina.

Setelah mencoba menyembunyikan fakta bahwa PDIP pecah menjadi kubu Puan dan kubu Jokowi, akhirnya hari ini Eva Sundari mengakui bahwa pengkubuan itu ada, dan kubu Puan Maharani memiliki nama tidak resmi sebagai geng Tancho.

Di internal PDIP, kabarnya ada geng Tancho, para pembisik di sekeliling Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP Puan Maharani yang selalu mengusik pencapresan Jokowi. Geng ini diminta ikut keputusan partai mendukung pencapresan Jokowi. Secara gamblang Eva Sundari mengakui bahwa dia bukan bagian dari geng Tancho, melainkan bagian dari kubu Jokowi atau Pro Jokowi. Mengapa namanya gang Tancho? sebab orang-orang yang mendukung Puan Maharani adalah orang yang klimis sehingga mendapat julukan sebagai Tancho, mengikuti merek parfum.

Perbedaan antara PDIP Pro Jokowi dan gang Tancho adalah bahwa PDIP Projo ingin Jokowi menguasai PDIP dan karena itu orang-orang yang bergabung dalam Projo menguasai PDIP. Sedangkan geng Tancho berjuang mempertahankan Trah Soekarno dari para penghianat yang mencoba menggerogoti kekuasaan mereka di PDIP, sebuah partai yang memang didirikan khusus untuk Trah Soekarno. Usaha terakhir geng Tancho menahan laju PDIP Projo adalah dengan menjadikan Megawati, sang Ketua Umum yang sudah sepuh menjadi Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP, sebuah posisi yang sempat akan direbut oleh PDIP Projo.

Dengan fakta bahwa memang benar ada kubu Jokowi dan kubu Puan yang saling berlawanan ini maka kita dapat meyakini bahwa pengusiran Jokowi oleh Puan; debat sengit Puan dan Prananda; dan menangisnya Megawati karena kedua anaknya, Puan dan Prananda berantem sebagaimana dilaporkan The Jakarta Post adalah benar adanya.

Yang menjadi pertanyaan sekarang bukan apakah benar ada pengkubuan yang saling berseberangan di dalam PDIP, melainkan siapa yang membocorkan rahasia yang sebelumnya tersembunyi rapat-rapat itu? Sebelum The Jakarta Post membuka rahasia itu karena mengutip seorang narasumber yang ikut dalam rapat pengusiran, ribut internal dalam PDIP hanya dibicarakan secara bisik-bisik. Jadi siapa yang membocorkan rahasia besar PDIP ini?

Untuk menjawabnya kita akan menggunakan metode yang sangat mudah, yaitu siapa diuntungkan dengan kebocoran informasi bahwa di PDIP ada pengkubuan termasuk nama kubu Puan, yaitu geng Tancho. Kubu Puan atau kubu Jokowi lebih diuntungkan?

Dari semua sisi kita harus mengatakan bahwa Kubu Jokowi lebih diuntungkan dengan kebocoran informasi tersebut. Coba kita ingat lagi, sejak saat hasil quick count diketahui sebenarnya posisi Jokowi sebagai capres sudah di ujung tanduk, sebab terbukti "Jokowi Effect" hanya hoax dan palsu sehingga sudah ada cukup alasan membatalkan pencapresan Jokowi. Namun dengan bocornya informasi Jokowi diusir Puan, otomatis bila pencapresan Jokowi dibatalkan maka orang dengan mudah menyimpulkan pasti perbuatan Puan Maharani, belum lagi kubu Jokowi akan mudah memanasi suasana dengan menimpakan semua kesalahan kepada Puan Maharani. Mereka memang ahli dalam melakukan hal tersebut.

Jadi apa yang harus dilakukan PDIP; Megawati dan Puan Maharani? Batalkan pencapresan Jokowi dan pecat dia bersama-sama PDIP Projo. Resiko memelihara Brutus junior lebih berbahaya dan merugikan ketimbang memotong kerugian sekarang. PDIP tidak rugi dan bahkan untuk dengan menyingkirkan Jokowi, tapi mereka pasti kehilangan segalanya bila Jokowi menjadi presiden. Tidak percaya? tunggu saja tanggal mainnya.

0 comments:

Post a Comment