Kloningan

Friday, May 16, 2014

Bukti Persekongkolan Megawati dan Benny Moerdani

Leave a Comment
Berric Dondarrion

Markas besar PDI di Diponegoro sedang dalam proses renovasi dan hari ini adalah peresmian tanda dimulainya renovasi tersebut oleh Megawati. Saat meresmikan Megawati mengenang peristiwa berdarah penyerbuan tentara tanggal 27 Juli 1996 yang untuk pertama kalinya melambungkan nama Megawati Soekarnoputri sebagai calon pengganti Presiden Soeharto. Yang masih menjadi misteri adalah siapa dalang penyerbuan mengingat Presiden Soeharto tidak pernah memerintahkan penyerangan secara fisik terhadap Megawati.

Sebagaimana sudah pernah saya tuliskan dalam beberapa artikel bahwa pelakunya adalah Benny Moerdani yang bekerja sama dengan Megawati untuk menjungkal Presiden Soeharto. Lalu apa buktinya? Bukti petunjuk paling awal adalah keterlibatan murid-murid Benny yaitu Hendropriyono dan Agum Gumelar dalam peristiwa tersebut; dan bukti petunjuk lain adalah pernyataan Megawati kepada RO Tambunan bahwa Mega sudah mengetahui ada penyerbuan beberapa hari sebelumnya. Siapa informan Megawati? Benny Moerdani!

Namun bukti terkuat dan paling sempurna dari keterlibatan Benny Moerdani datang dari kesaksian Rachmawati Soekarnoputri dalam catatannya di harian Rakyat Merdeka Rabu, 31 Juli 2002 dan 1 Agustus 2002 tentang bagaimana Benny yang dibuang Presiden Soeharto dan karena itu sakit hati mendekati keluarga Soekarno yang sebelumnya telah bersumpah untuk tidak terlibat politik. Adapun tujuan Benny mendekati keluarga Soekarno adalah untuk menciptakan lawan bagi Orde Baru. Di antara anak-anak Soekarno hanya Megawati yang bersedia ikut dan menjadi alat balas dendam yang direncanakan Benny Moerdani.

Menurut Rachmawati, Benny Moerdani mulai mendekati keluarga Soekarno sesaat setelah dia dicopot dari posisi Pangab dan tidak dipakai lagi oleh Presiden Soeharto. Saat itu terlihat sekali bagi orang-orang di sana bahwa Benny menyimpan sakit hati kepada Presiden Soeharto. Bertentangan dengan pernyataan Jusuf Wanandi, kroni Benny di CSIS di buku A Shades of Grey yang mengatakan Benny hanya mempunyai keinginan mengendalikan pihak berkuasa tanpa mau berkuasa, kepada keluarga Soekarno, Benny mengaku bahwa dia memang ingin menjadi wakil presiden dan bahkan menjelang Sidang Umum MPR tahun 1988 telah melakukan kampanye hitam bahwa calon wapres Soedarmono terkait komunis tapi ternyata Presiden Soeharto tetap memilih Soedharmono.

Menurut Rachmawati, dia kecewa karena Megawati malah tertarik tawaran Benny dan keluar dari kesepakatan antar keluarga Soekarno untuk tidak terjun ke politik supaya nama Soekarno tidak menjadi kotor dan dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Bahkan usaha Guntur untuk mencegah pertualangan Megawati dengan Benny Moerdani tidak berhasil padahal Rachmawati sudah memperkirakan bahwa kelompok Benny Moerdani sedang mempersiapkan tampilnya keluarga Soekarno ke panggung politik untuk memuluskan ambisi mereka.

Nah, dari penuturan Rachmawati terungkap fakta yang terkubur selama ini bahwa Soerjadi, orang yang merebut kursi Ketua Umum PDI dari tangan Megawati di kongres Medan dan Aberson Marie Sihaloho orang yang menyebar angket untuk memilih Megawati sebagai presiden sehingga membangkitkan kecurigaan Mabes ABRI adalah orang-orang PDI anggota klik Benny Moerdani. Bila kita ingat sebelum Soerjadi diturunkan Soeharto dia menjadi ketua PDI adalah atas bantuan murid Benny, Agum Gumelar dan Hendropriyono.

Singkatnya, Kongres PDI di Surabaya tahun 1993; Munas PDI; Kongres PDI di Medan adalah jebakan yang disiapkan Benny Moerdani untuk memancing reaksi Orde Baru dengan tujuan menampilkan Megawati ke atas panggung sebagai pemimpin oposisi melawan Presiden Soeharto. Nah, ketika Orde Baru bereaksi secara intelijen untuk menurunkan Megawati, reaksi tersebut malah ditunggangi orang-orang Benny Moerdani untuk menciptakan suatu serangan secara fisik terhadap Megawati, sehingga tampillah sosok pemimpin oposisi korban aniaya diktator kejam dari keluarga terpandang bernama Megawati Soekarnoputri.

Sekali lagi, kita harus juga mengingat kesaksian Salim Said di buku otobiografinya tentang rencana Benny Moerdani sebagaimana disampaikan kepadanya dan beberapa angkatan 66 bahwa menjatuhkan Soeharto harus dilakukan dengan suatu kerusuhan besar sehingga menciptakan instabilitas sosial dan politik yang pada gilirannya menggoyang kursi kepresidenan Soeharto sehingga mudah didongkel. Rencana ini adalah permulaan dari Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan Mei 13-14 Mei 1998 yang mematikan itu.

Dengan melihat peristiwa di kantor PDI sebagai persekongkolan jahat Benny Moerdani dengan Megawati maka menjadi masuk akal mengapa Megawati mati-matian menolak menyelidiki kasus Peristiwa 27 Juli 1996 sampai tega menyakiti hati pendukung setianya. Pangkat tinggi yang dihadiahkan Mega kepada "para pelaku" seperti Hendropriyono; Sutiyoso; Agum Gumelar; SBY juga masuk akal karena tanpa mereka maka Megawati tidak akan menjadi presiden Republik Indonesia.

0 comments:

Post a Comment