Kloningan

Monday, May 12, 2014

Prabowo-Jokowi; Indo di Antara Dua "Setan"

Leave a Comment
Berric Dondarrion

Bagi yang pernah membaca artikel saya di kompasiana sebelumnya mungkin pernah berpikir bahwa saya adalah pendukung Prabowo atau anggota pasukan dunia maya Prabowo, bila demikian maka harus saya sampaikan bahwa pemikiran tersebut tidak benar. Sebaliknya selama 16 tahun terakhir saya justru memiliki perasaan negatif atau rasa tidak suka yang sangat kuat terhadap Prabowo karena beberapa isu sehubungan dengan masa-masa akhir Orde Baru, misalnya dalang Kerusuhan Mei 1998 adalah Prabowo dengan skenario supaya memperoleh kekuasaan memulihkan keadaan darurat meniru Supersemar yang diperoleh mertuanya, Soeharto dan Soekarno. Sekarang saya memang sudah mengetahui bahwa dalang sebenarnya adalah Benny Moerdani, namun demikian perasaan negatif tersebut tetap sulit hilang dengan sempurna.

Jangan salah, tangan Prabowo berlumuran darah, akan tetapi sebagaimana pernah saya uraikan sebelumnya semua orang yang hidup dekat dengan kekuasaan atau melawan pemerintah pada Orde Lama dan Orde Baru, yang beberapa di antaranya masih hidup sampai sekarang, tangannya juga berlumuran darah. Benar sekali, tidak ada seorangpun termasuk para pendorong reformasi bukan pengecualian. Mengapa demikian? Karena baik Orde Lama maupun Orde Baru didirikan oleh individu-individu yang terlibat dalam revolusi fisik atau perang kemerdekaan sehingga pola berpikir mereka memandang HAM, demokrasi dan isu-isu lain secara berbeda dari kacamata kita hari ini. Demikian pula generasi yang digembleng oleh para tokoh Orde Lama dan Orde Baru sedikit banyak menyerap pola pikir revolusi fisik tersebut.

Reformasi bisa dikatakan usaha rakyat Indonesia untuk melepaskan diri dari pola pikir revolusi fisik dari para pejuang kemerdekaan kita, dan walaupun sampai sekarang masih gagal namun kita masih berjuang ke arah moderanisasi pola berpikir kita sebagai bangsa dan negara, dan tentu saja para tokoh Orde Baru dan Orde Lama yang masih hidup juga dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan alam modern walaupun sering terbentur dengan perbedaan budaya.

Sehubungan dengan itu, saat ini Indonesia sedang menghadapi pemilihan presiden dengan hanya ada dua nama yang dianggap paling berpotensi menjadi presiden Indonesia yang baru menggantikan SBY, yaitu Prabowo dengan dosa-dosa masa lalunya dan Jokowi yang dianggap jejaknya bersih dari beban masa lalu. Pilihan paling mudah tentu memilih Jokowi daripada Prabowo sebagaimana pemikiran penuh simplikasi yang dilakukan para NGO/LSM sang polisi moral rakyat Indonesia itu kan?

Menurut saya tidak benar bila kita segera menolak Prabowo dan memilih Jokowi hanya sekedar karena Prabowo tangannya berlumuran darah, maksud saya, semua pemimpin kita seperti Megawati dan SBY juga tangannya berlumuran darah dan pernah melakukan pelanggaran HAM karena sistem politik Orde Baru menuntut demikian, Mega misalnya melakukan pelanggaran HAM dengan operasi militer di Aceh; SBY? Dari kacamata Timor Leste dia adalah bagian dari negara agresor Timor Timur dan terlibat Peristiwa 27 Juli 1996. Demikian pula dengan para NGO dan LSM tangannya berdarah karena menerima uang Amerika Serikat sehingga menyebabkan Kerusuhan Mei 1998, dan hal ini belum termasuk Peristiwa Malari yang menyebabkan ratusan korban jiwa melayang. Jadi tangan Prabowo berlumuran darah? So what?

Kita memiliki pilihan dalam hal ini, melakukan rekonsiliasi dengan masa lalu kita dan maju ke depan atau terus mundur ke belakang dengan terus menerus melihat ke masa lalu? Dalam hal ini kita harus malu kepada rakyat Timor Leste sebab dengan pembantaian yang kita lakukan di tanah mereka mulai dari Santa Cruz sampai pada akhir referendum 1999 maka sebenarnya mereka memiliki semua hak untuk membenci Indonesia dan menuntut Indonesia ke pengadilan internasional semata-mata untuk membalas dendam. Namun demikian opsi tersebut tidak mereka lakukan, Timor Leste memilih untuk melakukan rekonsiliasi dengan Indonesia demi masa depan negara mereka sebab mereka berpikir bila mau mengadili pelanggaran HAM oleh Indonesia di Timor Leste maka mau sampai sejauh mana mau ditarik pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab? Rekonsilasi inilah yang menyelamatkan Wiranto, Panglima ABRI tahun 1999. Di bawah ini adalah kutipan dari Xanana Gusmao ketika ditanya mengenai rekonsiliasi dengan Indonesia sebagaimana dicatat oleh Fitri Bintang Timur dalam artikel di the Jakarta Post dalam artikel Xanana Gusmao, Timor Leste and Regional Politics, 17 Juni 2013:

"In a candid Q&A session, Gusmao was asked about Timor Leste’s reconciliation process and whether other countries might be able to learn from the process. He replied that for his country, it was not wise to follow the Palestinian intifada approach and keep fighting but rather to pursue reconciliation.

If he opted to hold the Indonesian generals responsible, then it would not be fair if the countries supplying arms to the Indonesian New Order government were not held responsible. If he pursued the blame, consequently, the young generation would suffer because it would remind them of the trauma of conflict. Therefore, for the sake of the future, he viewed reconciliation and maintaining good relations with Indonesia as more important.

Later on, Gusmao mentioned his informal meeting with Susilo Bambang Yudhoyono (when the latter was coordinating political, legal and security affairs minister under president Megawati). SBY sought Gusmao’s cooperation to prevent Timor Leste from being too troublesome as, at the time, Indonesia was going through its democratic transition and was politically unstable. After a long discussion, Gusmao agreed, and when he became Timor Leste president he kept his promise."

Menurut saya sudah saatnya kita memutus trauma masa lalu dan berjalan ke depan dan hal ini ditandai dengan menilai kualitas Prabowo berdasarkan program yang ditawarkan dan potensi dirinya untuk menjalankan program tersebut ketimbang terus berkutat dengan masa lalu yang mana merupakan kesalahan kolektif. Apabila tidak maka mungkin saja kita akan kehilangan keuntungan dari program Prabowo sekiranya memang program dia memang bagus dan positif bagi Indonesia. Jadi dalam memilih Prabowo atau Jokowi kita harus membandingkan program yang mereka tawarkan dan manfaat bagi Indonesia dan rakyatnya, tidak lebih dan tidak kurang.

Apabila kita membandingkan Prabowo dan Jokowi hanya dari program maka kita bisa melihat bahwa Prabowo sudah membuat konsep yang jelas bagi program-program yang akan dia jalankan sekiranya Prabowo terpilih menjadi presiden Indonesia sejak tahun 2004. Fokus Prabowo juga cukup jelas, antara lain pertanian dan ketahanan pangan dan untuk itu dia sudah menjadi Ketua HKTI yang berarti sedikit banyak menguasai masalah pertanian dan bagaimana menyelesaikan masalah tersebut. Untuk program lain bagaimana konsep dan implementasinya juga sudah dijabarkan oleh Gerindra melalui Manifestasi Gerindra dengan cukup terperinci. Sebaliknya program Jokowi bagi kabur dan tidak jelas, bagaimana konsepnya dan bagaimana implementasi tidak kelihatan dan tampak sekali bahwa Jokowi adalah capres dadakan yang baru disiapkan dua tahun terakhir dalam suasana terburu-buru yang terlihat dari ketidakjelasan program. Yang lebih parah lagi program Jokowi yang sudah diumumkan ke publik seperti Revolusi Mental dan Ketahanan Pangan ternyata mencontek. Bukan mencontek yang jadi masalah akan tetapi dia paham tidak filosofi dari program yang dia contek?

Membandingkan rekam jejak kepemimpinan dan pejabat publik maka terlihat bahwa Prabowo adalah purnawirawan Letnan Jenderal, yang sudah memperoleh pendidikan kepemimpinan dan pengalaman memimpin pasukan sejak puluhan tahun walaupun kita belum melihat prestasinya sebagai pejabat publik, sementara Jokowi sudah menjadi Walikota Solo selama tujuh tahun dan Gubernur DKI Jakarta selama hampir dua tahun. Isu di sini adalah pengalaman mengelola daerah Prabowo adalah nol sedangkan Jokowi nyaris sepuluh tahun. Yang menjadi masalah bukan Prabowo tidak memiliki pengalaman memimpin daerah, melainkan hasil kerja Jokowi selama di Solo dan Jakarta sangat kacau, bahkan Jakarta di bawah kepemimpinannya mencatat kenaikan inflasi dua kali lipat; jumlah orang miskin bertambah; ekonomi melambat dan pembangunan di Jakarta berhenti. Dengan demikian sementara kita tidak tahu apakah Prabowo akan benar-benar bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, namun kita sudah mengetahui dengan pasti bahwa Jokowi akan menghancurkan Indonesia pada segala sektor.

Jadi karena kita tidak ada pilihan selain Prabowo dan Jokowi maka mau tidak mau kita harus memilih di antara keduanya, antara yang belum berpengalaman dan tidak diketahui hasil kerja sebagai pemimpin publik dan yang sudah berpengalaman tapi hasil kerjanya terbukti kacau balau? Dalam hal ini berlaku prinsip memilih di antara dua setan (lesser of two evils) maka kita harus memilih setan yang lebih baik karena ketiadaan malaikat, atau seperti saya sekalian tidak memilih.

Pilihan di tangan anda.

0 comments:

Post a Comment