Kloningan

Saturday, May 17, 2014

Jokowi, Norman Kamaru Versi Politisi?

Leave a Comment
Berric Dondarrion

Ingatkah anda beberapa tahun silam Indonesia dihebohkan oleh video seorang polisi yang sedang tugas jaga dan bernyanyi lagu India berjudul Chaiya-Chaiya yang diupload di youtube? Entah apa alasan yang membuat video tersebut heboh namun pastinya nyaris seluruh stasiun televisi Indonesia berulang kali menayangkan video tersebut dan membahas kehebohan ada polisi bernyanyi Chaiya-Chaiya. Mungkin, ini mungkin alasan video itu mewabah adalah karena menampilkan sosok manusiawi dari polisi yang biasanya terkesan angker. Oh iya sebelum lupa, nama polisi dimaksud adalah Norman Kamaru.

Norman Kamaru bisa dibilang adalah salah satu orang yang melejit secara instan yang dihasilkan generasi Youtube. Orangpun mulai penasaran dengan identitas Norman Kamaru, dan mau melihat penampilan asli si artis Youtube secara langsung. Kepolisian RI sendiri melihat kesempatan memperbaiki citra kepolisian segera membawa Norman Kamaru ke Jakarta dan mengizinkannya cuti untuk bernyanyi di berbagai acara menggunakan seragam resmi polisi. Selama beberapa bulan selanjutnya tidak ada acara yang tidak meyuguhkan Norman Kamaru dan Chaiya-Chaiya.

Semua perhatian besar dari publik Indonesia ini tentunya mengagetkan Norman Kamaru, apalagi tawaran menjadi penyanyi rekaman mulai membanjir, salah satunya dari perusahaan rekaman milik Farhat Abbas. Akhirnya karena tidak bisa menahan diri dengan gemerlap dunia entertaiment, Norman terlihat mulai melupakan tugas sebagai polisi dan lebih fokus pada kegiatan bernyanyi yang seharusnya menjadi sampingan. Mabes Polri akhirnya menegur Norman yang menanggapinya dengan mengajukan permohonan pensiun dini, mungkin dengan pertimbangan materi dari nyanyi lebih besar daripada jadi polisi.

Sayangnya setelah pensiun dari kepolisian, karir nyanyi Norman Kamaru juga mandek dan sekarang sudah tidak kedengaran lagi walaupun sesekali masih tampil di beberapa acara namun ketenaran Norman tidak pernah menyamai masa puncaknya semasa menjadi artis Youtube.

Nah, bila melihat perjalanan Norman Kamaru dari polisi tidak bernama; menjadi bahan pembicaraan seantero Indonesia; dan kejatuhannya karena kegagalannya menahan diri dari godaan sukses instan maka sedikit banyak Norman Kamaru memiliki kesamaan dengan karir Jokowi. Bila Norman Kamaru adalah penyanyi instan maka bisa dibilang Jokowi adalah politisi instan hasil karbitan.

Sama seperti Norman Kamaru, Jokowi awalnya juga hanya politisi daerah yang tidak terkenal dan kemudian melejit ke tingkat nasional berkat pemberitaan yang masif dan terus menerus, kemudian naik tingkat menjadi Gubernur DKI namun termakan oleh popularitasnya sendiri dan terpengaruh tawaran-tawaran jaminan sukses membuat Jokowi lupa diri dan percaya bahwa dia seorang diri akan memenangkan pileg untuk PDIP dan pilpres dengan mudah.

Demikian pula sama seperti Norman Kamaru saat ini popularitas Jokowi semakin menurun drastis sebab berbagai kebohongan dan terbukanya fakta bahwa kapasitas dan kapabilitas Jokowi di bawah standar umumnya pemimpin di Indonesia, belum lagi fakta bahwa kepemimpinannya telah menaikan angka kemiskinan di Solo dan Jakarta secara signifikan.

Memang masih ada beberapa bulan lagi menjelang pilpres dan sampai saat itu terjadi masih banyak hal yang bisa terjadi sehingga menurunnya elektabilitas Jokowi belum tentu tidak bisa meraih ambisi dan kerakusan pribadinya untuk menjadi presiden Indonesia. Namun demikian turunnya popularitas Jokowi setidaknya menunjukan kebenaran bahwa segala sesuatu yang menanjak terlalu cepat akan menukik dengan sama cepatnya.

Nah, tampaknya kubu Jokowi sudah menyadari bahwa Jokowi bukan dewa bertangan midas dan superman banjir sebagaimana diklaim dirinya selama ini, terbukti mereka mulai panik saat nama Puan Maharani menguat sebagai cawapres Jokowi karena kuatir Puan akan menurunkan elektabilitas pasangan tersebut. Kekuatiran kubu Jokowi terhadap Puan sebenarnya lucu karena dua bulan lalu mereka masih mengatakan dipasangkan dengan sendal jepit sekalipun Jokowi pasti menang, dan sekarang dipasangkan dengan Puan mereka jadi tidak pede menang. Masa Puan lebih buruk daripada sendal jepit?

0 comments:

Post a Comment